Tujuan strategis jangka panjang Muhammadiyah adalah pembentukan “masyarakat Islam yang sebenar-benarnya” di Indonesia. Rumusan tujuan seperti itu cukup mendasar, mengingat secara etimologis Muhammadiyah diartikan sebagai pengikut Muhammad. Artinya, Muhammadiyah menyandarkan diri kepada sosok agung yang telah berhasil membangun masyarakat yang sebenar-benarnya. Namun demikian, tujuan strategis jangka panjang itu bukan sebuah barang mainan yang begitu mudah didapatkan. Terkadang ia seperti sebuah proyek besar nan mewah yang sulit digapai dan kerap muncul dalam mimpi.
Robert N. Bellah dalam buku, “Beyond Belief”, menyimpulkan tentang keberhasilan dari program kerja Rasulullah dalam mengubah masyarakat Arabia sebagai sebuah lompatan yang begitu maju di masanya. Bellah menulis, “bahwa di bawah Muhammad, masyarakat Arabia telah melakukan lompatan ke depan dengan amat mengagumkan dalam kompleksitas sosial dan politik.” Apa yang diungkap Bellah sebenarnya hanyalah ungkapan dari apa yang kita kenal dalam karir Rasulullah sebagai manusia yang berhasil dalam perjuangannya. Nabi Muhammad sebagai manusia idola terlibat sepenuhnya dalam putaran waktu dan ruang historis. Ia menguasai dan mengarahkan kekuatan-kekuatan sejarah kepada terciptanya suatu bangunan masyarakat yang etis di muka bumi yang berawal di Semenanjung Arabia abad ke tujuh itu.
Menyerap Spirit Baru
Bila kita kaitkan antara perjuangan Rasulullah dengan gerakan Muhammadiyah, maka kita dengan mudah dapat mencerna apa makna kehadiran Rasulullah bagi gerakan ini. Nabi Muhammad dengan sangat berhasil telah melakukan transformasi menyeluruh terhadap masyarakat Arabia dengan wahyu sebagai patokan utamanya. Keberhasilan ini bukanlah sesuatu yang utopis, ia diuraikan oleh sejarah dengan fakta yang sebenarnya. Setiap orang tidak akan menyangkal kenyataan ini. Karena Muhammadiyah telah mendeklarasikan diri sebagai pengikut Nabi Muhammad, maka menapak jejak dan mengenal watak Utusan Tuhan itu menjadi sebuah kemestian pilihan. Dengan kata lain, strategi perjuangan Rasulullah bukan untuk dibaca dalam bingkai literal saja, namun untuk diinternalisasikan selanjutnya dijadikan nafas kesadaran dalam berpikir dan bertindak dalam mengelola persyarikatan ini.
Secara jujur dan berani, kita mesti mengatakan bahwa tidak sedikit diantara warga Muhammadiyah merasa senang berMuhammadiyah, sebab organisasi yang menjadi pilihannya tergolong gerakan modern dan besar. Hanya saja, di sebalik kebanggaan yang dirasakannya, secara tidak sadar, virus romantisme sejarah menjalar dan menempati alam bawah sadar mereka. Benar, bahwa organisasi ini tergolong modern, seperti yang pernah dikemukakan oleh James L. Peacok. Namun itu dulu. Tentu saja, jika predikat menggembirakan tersebut harus kita bawa dalam setiap waktu dan kesempatan maka gelar itu telah kehilangan relevansi. Romantisme sejarah berakibat pada penyakit lupa dan lalai dengan strategi yang mesti dibuat untuk masa kini dan mendatang. Banyak indikator yang dapat kita gunakan untuk memotret kenyataan pahit ini. Evaluasi kritis sebagaimana yang pernah diajarkan Nabi kepada para sahabat terkubur bersama dengan tumpukan ritual organisasional yang berputar dari itu ke itu saja. Akhirnya, Muhammadiyah berjalan di tempat dan meraba-raba di tengah keremangan senja sejarah.
Sebagai institusi penegak sunnah (ihyaa’ al sunnah), Muhammadiyah sejatinya tetap memiliki akar tunggang perjuangan kepada Nabi. Sekali benang merah perjuangan Nabi itu terlepas dari acuan gerakan, maka ia akan kehilangan arah dalam kerja transformasi masyarakat Indonesia. Secara jernih kita mengatakan bahwa dalam beberapa sektor kegiatan Muhammadiyah, benang merah perjuangan Nabi ini tidak selalu jelas. Dengan kata lain nilai-nilai akhlak Islam dalam beberapa kegiatan sering dikorbankan lantaran wawasan Islam tidak ditangkap secara tajam. Karena itu, internalisasi nilai-nilai Islam pada sebagian anggota Muhammadiyah yang memegang posisi tidak selalu meyakinkan. Hal ini bisa kita lihat pada fenomena sosiologis dalam peta kegiatan kemasyarakatan gerakan ini. Untuk itu penguatan dalam wilayah ini merupakan sebuah rukun mutlak.
Kita sering tidak dapat menangkap slogan kembali kepada al-Qur’an dan sunnah, meskipun statemen tersebut selalu kita perdengarkan di setiap ruang. Di sisi lain kita lupa melakukan usaha yang serius dan sistematis untuk memberikan makna yang sejati terhadap slogan itu. Karenanya, pisau gerakan Muhammadiyah tidak akan pernah mampu membedah berbagai kangker yang sesungguhnya mengakar di masyarakat. Di sinilah sesungguhnya letak kekuatan Muhammadiyah periode awal dan beberapa dekade setelahnya. Mereka mampu untuk menangkap spirit slogan itu kemudian mengusungnya bersama-sama untuk membesarkan Muhammadiyah ini. Dalam film “Sang Pencerah” misalnya, slogan kembali kepada al-Qur’an dan sunnah, serta wajah organisasi pembaruan begitu kentara. Meskipun Sang Pendirinya (K.H.A. Dahlan) mendapat tuduhan yang kerap menyudutkannya karena melakukan berbagai hal yang dianggap “kafir”. Namun apa yang ia gagas dan praktekkan dahulu, kini menjadi sebuah kebutuhan mendesak.
Pada masa awal, para tokoh Muhammadiyah menghadapi serangkaian tantangan yang selalu ditimbulkan oleh orang-orang yang berdiri di luar Muhammadiyah. Kini tantangan itu lebih banyak ditimbulkan oleh warga persyarikatan sendiri. Jika Muhammad Abduh menulis “Al-Islaam mahjuubun bi al muslimiin / Islam mundur karena perilaku umatnya”, maka mungkin saja Muhammadiyah kini kurang berkembang dan tumpul taring pembaruannya karena terhalang warga persyarikatan yang “alergi” terhadap berbagai terobosan. Sangat sedikit warga persyarikatan yang berani menafsirkan al-Qur’an melebihi Muhammad Abduh yang terkenal rasional, atau di bidang tauhid, melampaui Muhammad Ibn Abdul Wahhab. Jika dulu hal-hal baru amat digemari Muhammadiyah, maka kini ide-ide baru dan segar sering dianggap mendangkalkan akidah umat. Wajar saja, pembentukan masyarakat yang sebenar-benarnya sebagai blue print yang diharapkan Muhammadiyah bisa jadi merupakan sebuah utopia.
Memang pada level praktis, Muhammadiyah adalah satu-satunya organisasi pembaruan yang memiliki lembaga pendidikan yang tak dapat ditandingi. Tetapi bila standar yang kita pakai adalah wawasan al-Qur’an tentang kualitas umat, maka organisasi ini mengalami kerapuhan gerakan. Sebagai pengikut sejati Rasulullah, Muhammadiyah semestinya menjadi pengawas dan pengarah kekuatan sejarah dalam berbagai konteks; lokal, nasional maupun global. Yang terjadi justru sebaliknya, Muhammadiyah masih sering dipermainkan oleh kekuatan-kekuatan sejarah, baik secara lokal, nasional maupun global. Untuk itu, Muhammadiyah harus bekerja lebih keras lagi di bidang intelektualisme, namun dengan tidak melupakan kerja sosial yang selama ini sudah menjadi citra dirinya. Dengan kata lain, kekuatan kuantitatif mesti diimbangi dengan kekuatan kualitatif.
Agenda Masa Depan
Sejatinya, Muhammadiyah memiliki dua sayap padu yang tidak bisa dipisah antara satu dengan lainnya, yaitu; sayap aktivisme dan sayap intelektualisme. Intelektualisme di sini setidaknya dapat dimaknai sebagai tradisi yang mengedepankan pengembangan intelek atau praktek pengayaan pengetahuan sebagai fondasi untuk melakukan perubahan. Sementara aktivisme dimaknai sebagai sebuah aksi yang tujuannya untuk melakukan perubahan baik secara sosial maupun politik melalui kegiatan-kegiatan yang dalam konteks persyarikatan bersifat kolektif. Kedua sayap ini mesti menyatu sebab perubahan yang sistematis dan paradigmatik dimulai dari telaah mendalam terhadap suatu fenomena untuk kemudian diimplementasikan di tingkat praksis. Dalam titik yang ekstrim, intelektualisme dan aktivisme sering berjalan sendirian. Keduanya ibarat jalur kereta api, bersama, namun tidak pernah ketemu.
Keadaan tersebut tentunya menyebabkan intelektualisme terperangkap dalam apa yang disebut dengan “single mindedness” dan “emotional coldness”, dimana seseorang bisa terlalu egois, keasyikan dengan berbagai terawangan intelektual, kurang sensitif, dan mungkin tidak taktis dan strategis. Sementara aktivisme lebih unggul di lapangan, namun tergelincir dalam sebuah rutinitas yang statis dan miskin inovasi karena kurangnya dimensi reflektif. Dua agenda penting yang perlu dipertahankan dan dipertajam ini, seyogyanya menjadi pilihan bijak pada setiap level kepemimpinan. Dengan dua tradisi tersebut, Muhammadiyah diharapkan benar-benar mewujudkan diri kembali sebagai organisasi tercerahkan yang selalu mencerahkan masyarakat. Seperti Sang Junjungan, Rasulullah, antara aktivisme dan intelektualisme menyatu dalam setiap desah nafas dan ayunan langkah yang diperankan Muhammadiyah. Dengan dua hal penting ini, slogan sebagai pengikut setia Rasulullah bukan sebuah utopia, melainkan memang terwujud dalam ranah faktual dan membumi. Tujuan strategis jangka panjang, “mewujudkan masyarakat Islam yang sebenar-benarnya”, bukanlah sebuah kebetulan, melainkan pilihan sadar dan disengaja. Tentu saja, pilihan tersebut memiliki benang merah dengan historisitas perjuangan Rasulullah. Wa allahu a’lam.
0 komentar:
Poskan Komentar
Silahkan beri komentar yang konstruktif