Banyak jalan yang dapat kita tempuh untuk melakukan kebajikan. Sebanyak itu pula jalan yang dapat kita bentangkan menuju surga. Rasulullah mengajarkan kita untuk membuka berbagai jalan itu. Dengannya, ruang keselamatan terasa luas dan tak terbatas. Sebagaimana ditegaskan al-Qur’an itu sendiri, “fastabiquul khairaat” (berlomba-lombalah dalam melakukan kebajiban), memberi isyarat jelas bahwa ladang amal tidak terbatas pada aspek-aspek tertentu saja, melainkan ada dalam setiap lingkup aktivitas umat manusia. Selanjutnya, Islam tidak mengenal hirarki religius, yang mana kepengurusan agama hanya dapat dijalankan dan digapai oleh segelintir orang. Sebaliknya, setiap Muslim dapat menjadi seorang hamba yang begitu dekat dengan Allah, sepanjang ia meniti karir spiritual secara baik dan benar. Karena itu, siapapun ia dan berprofesi sebagai apa, orang itu memiliki peluang yang sama dalam merambah kebajikan. Tidak ada perbedaan antara kaya dan miskin, raja dengan rakyat jelata, tuan dan budak, kecuali kualitas kehambaannya kepada Allah.
Jalan-Jalan Kebajikan
Dalam sebuah hadis dinyatakan, “Tebarkan salam, beri makan orang yang lapar, sambung silaturrahim, dan tegakkan shalat”, menjelaskan bentangan jalan yang begitu luas. Artinya, rupa-rupa jalan tersebut dapat ditempuh oleh setiap kita dalam rangka mencari ridha Allah. Menariknya lagi, Rasulullah menutupnya dengan sebuah harapan, “Jika amalah-amalan itu kalian lakukan, maka kalian akan masuk surga dengan keselamatan.” Lingkup kebajikan yang tak terbatas ini mendasari pemikiran kita bahwa Islam bukan sekedar institusi rigid yang hanya mengupas halal dan haram, mubah dan makruh, sunnah dan bid’ah, atau persoalan kecil lainnya. Via kalam-Nya yang suci, Allah menyuruh kita menyeruak aneka kebajikan yang terhampar di berbagai sudut aktivitas manusia. Kalam itu juga membuktikan bahwa ladang amal dalam Islam amat luas. Itulah sebabnya Ibnu Taymiyah menjelaskan bahwa kebajikan juga terdapat pada getaran hati, zikir lisan atau aktivitas keseharian.
Islam adalah agama yang begitu besar dalam mengupas persoalan sosial. Bayangkan saja, pada periode pertama dakwah Rasulullah, selain persoalan tauhid, manusia agung itu juga meruntuhkan keangkuhan masyarakat Quraisy yang menempatkan bangsawan dan raja-raja sebagai manusia terhormat. Ketika Islam datang, kalangan miskin papa dan rakyat jelata disejajarkan dengan kaum bangsawan, bahkan mendapat perlakuan istimewa dari Nabi. Inilah salah satu alasan mengapa seruannya kepada Islam menuai hasil yang signifikan. Dari lidahnya yang suci tersembul ucapan, “Ya Allah, hidupkan aku bersama orang-orang miskin, matikan aku bersama orang-orang miskin dan kumpulkan aku pada hari kiamat bersama kaum miskin pula.” Tentu saja, doa Nabi tersebut membahagiakan kaum yang selama ini menjadi pelengkap penderita. Hal lain yang dapat kita tangkap adalah bahwa kebajikan juga terdapat dari pemberian karitas spiritual dan material kepada kaum lemah.
Terkadang, kemuliaan Islam dengan ragam kebajikan tak terbatas itu sering dibajak dan dikebiri pihak-pihak tertentu sebagai agama yang sempit dan mandul. Dengan kata lain, Islam dipaksa hanya berbicara tentang kelahiran, perkawinan dan kematian saja, namun tak pernah dirujuk sebagai agama yang juga membincang teknologi, konservasi alam, politik maupun ekonomi. Untuk yang terakhir, Rasulullah sudah menjelaskan kepada kita bahwa kemuliaan Islam juga terletak pada aspek ekonomi. Bahkan Rasul sendiri merupakan pedagang tangguh kala itu. Akhirnya, masyarakat banyak menyimpulkan, surga dapat digapai hanya dengan banyaknya membaca al-Qur’an, shalat sunnah, puasa sunnah, zikir sambil terisak-isak dan sebagainya. Padahal selain itu, penemuan teknologi yang bermanfaat untuk nilai-nilai kemanusiaan, memelihara alam agar tetap terjaga, lurus dalam berpolitik, juga ragam kebajikan yang dapat ditempuh untuk menggapai ridha Tuhan.
Seperti disinggung Edward Mortimer, bahwa Islam lebih besar menekankan aspek sosial ketimbang ritual. Dengan kata lain, dengan beragam aktivitas dalam lapangan sosial tersembul kebajikan yang mulia di sisi Tuhan. Dapat dikatakan, orang yang melakukan shalat tarawih secara berjamaah adalah pelaku kebajikan. Orang yang tidak sempat shalat tarawih karena menjaga sandal, sepatu atau kendaraan orang-orang yang shalat, juga mesti kita nilai sebagai pelaku kebajikan. Bahkan, pengawasan itu dilakukan dalam rangka kepentingan orang lain. Tentulah nilainya di hadapan Tuhan amat tinggi. Para penggali kubur yang tak sempat menyolatkan jenazah karena pakaian yang kotor, belum tentu lebih rendah derajatnya ketimbang orang yang turut menyolatkan jenazah itu. Sebab, yang dilakukannya juga merupakan kebajikan. Namun demikian, meskipun aspek sosial mendapat perhatian begitu besar, bukan berarti kebajikan dalam medan ritual dapat ditinggalkan demi medan sosial. Inilah tesis yang keliru. Idealnya, keduanya mesti berimbang.
Karena kebajikan begitu luas dan tak terbatas, belum tentu seorang kiyai, penutur agama, tokoh-tokoh agama, lebih mulia daripada sopir taksi, penarik becak, pedagang kaki lima, maupun pembantu rumah tangga. Letak kemuliaan mereka ada pada pengorbanan kepada orang lain, tentunya didasari keikhlasan yg mantap pula. Semakin tulus pengorbanan itu, semakin tinggi nilainya di hadapan Tuhan. Terkadang, kita sering terjebak pada performa seseorang. Orang yang berpakaian cenderung kearab-araban, secepatnya akan kita justifikasi sebagai sosok yang memiliki tingkat religiusitas tinggi. Apalagi di depan namanya terselip predikat sebagai keturunan Nabi. Sebaliknya, orang yang berpenampilan sederhana, bahkan tidak mencerminkan tingkat keagamaan yang matang, kerap kita remehkan. Padahal sesungguhnya, di dalam dirinyalah berbagai kemuliaan tersimpan. Di sinilah pentingnya kehati-hatian kita dalam bersikap. Jangan sampai kita terperangkap dengan formalitas fisikal.
Kisah berikut dapat menjadi renungan bagi kita semua. Di sebuah desa kecil di Jawa, hiduplah seorang perempuan sekaligus perawan tua yang miskin. Orang biasa memanggilnya dengan Yu Timah (Kak Timah). Karena tubuh yang kurus dan ekonomi yang kembang kempis, sosok Yu Timah tidak menambat hati kaum pria. Ia berjualan nasi bungkus untuk para santri pesantren yang rata-rata miskin pula. Rumah perempuan itu dibangun dari anyaman bambu secara gotong royong, di atas sepetak tanah hasil dari belas kasihan tetangganya. Dulu, karena tekanan ekonomi, ia pernah merantau ke Jakarta. Namun, seiring dengan pertambahan usianya, ia dipensiunkan oleh majikannya. Apalagi ia buta huruf. Ia pun kembali ke desa dengan pekerjaan serabutan. Dalam keadaan demikian, ia masih dapat membiayai hidup ibu kandungnya yang sudah renta dan sakit-sakitan. Ketika ibunya wafat, tinggallah ia sebatang kara. Akhirnya ia putuskan untuk berjualan nasi. Dari hasil jerih payahnya itu, Yu Timah tak lupa untuk menabung di salah satu Bank Pemerintah, mulai dari Rp. 5000 hingga Rp. 10.000, itu pun jika ia punya keuntungan berlebih dari penjualan nasinya.Karena tak bisa baca tulis, Yu Timah meminta bantuan pegawai bank untuk mengurus administrasinya, kebetulan pegawai bank itu tetangganya.
Kini, saldo di tabungan Yu Timah berjumlah Rp. 650.000, sebuah jumlah yang fantastis dalam sejarah hidupnya. Jumlah itu sudah termasuk sisa dari Subsidi Langsung Tunai (SLT) yang ia peroleh dari pemerintah sebesar Rp. 1.200.000 selama setahun. Satu hari Yu Timah datang ke rumah tetangganya yang pegawai bank itu. Kepadanya Yu Timah mengatakan, “Pak, saya mau mengambil uang saya.” Tetangganya bertanya, “Berapa yang akan Yu Timah ambil?” Ia menjawab, “Saya perlu Rp. 600.000.” Tetangganya pun heran, ia mengatakan, “Untuk apa uang sebesar itu?” Dengan sedikit malu Yu Timah menjawab, “Saya ingin membeli hewan Qurban untuk ‘Idul Adha mendatang.” Tanpa disadari, air mata laki-laki itu menetes. Batinnya berkata, “Aku yang mampu belum tentu sanggup berkorban seperti halnya Yu Timah. Sementara ia melakukannya. Inilah pengorbanan yang tulus dan suci. Daging qurban yang akan dibagi Yu Timah, adalah daging yang berbau aroma surga.”
Senyum Tuhan
Dalam cerita sufistik, ada orang yang mendapatkan haji mabrur, namun tidak menunaikan ibadah haji. Dalam konteks ini mungkin saja Yu Timah salah satunya. Ia ingin mendedikasikan dirinya untuk orang lain, kendati dalam ekonomi yang amat terbatas. Inilah mungkin calon penghuni surga seperti yang disebut Allah dalam QS. Ali-Imraan/ 3: 133-135. Yaitu orang yang dapat membahagiakan orang lain meskipun dalam suasana yang amat kekurangan. Meskipun tidak dapat menyebutnya sebagai kebajikan, apa yang sudah dilakukan Yu Timah adalah kebajikan hakiki yang tulus dan jauh dari pretensi. Dalam sebuah hadis dijelaskan, Allah bertanya, “Wahai hamba-Ku dahulu Aku lapar, kalian tidak memberi makan Aku.” Hamba-hamba-Nya bertanya, “Ya Allah, bagaimana aku memberi makan Engkau sementara Engkau adalah Tuhan semesta alam?” Tuhan menjawab, “Ketahuilah, jika ada hamba-Ku yang lapar, kemudian engkau beri makan ia, maka sesungguhnya engkau sudah memberi makan Aku.” Bisa jadi, Tuhan tersenyum melihat jamuan Yu Timah itu. Sebuah jamuan yang mengindikasikan kebajikan tulus dan amat luas. Wa Allahu a’lam.
0 komentar:
Poskan Komentar
Silahkan beri komentar yang konstruktif