Selasa, 20 Juli 2010

Menggapai Dunia

Salah satu diskursus menarik dalam dunia tasawuf adalah perdebatan mengenai dunia. Saya masih ingat berbagai impresi mengenai dunia, betapa para muballigh, ustadz, guru ngaji, maupun buku-buku yang berkenaan dengan tasawuf, mengingatkan secara tegas kepada kita bahayanya perangkap dunia. Bahkan beberapa racun yang terdapat dalam dunia itu adalah tahta, wanita dan harta benda. Akhirnya, ada sebuah kesan seolah-olah dunia beserta isinya harus dijauhi, demi mendekatkan diri kepada Sang Khalik. Tapi ironisnya, kita hidup di dunia, apa alasan kita untuk menjauhi dunia itu? Bukankah kita perlu “menikmati” dalam arti beribadah kepada Allah dengan menggunakan fasilitas dunia? Di dalam al-Qur’an juga disebutkan bahwa kita boleh berdoa untuk memperoleh kebahagiaan di dua wilayah sekaligus, yaitu; wilayah dunia dan wilayah akhirat. Kebahagiaan dimaksud, khusus di dunia, boleh jadi secara material juga secara moral. Karena itu, tidak ada alasan bagi kita untuk membenci dunia ini. Dunia beserta segala isinya dibentangkan Allah untuk dinikmati manusia, dalam kenikmatan itu terkandung nilai ibadah. Namun bagaimana cara kita bersahabat dengan dunia ini?


Menghargai Dunia

Dikisahkan dalam sebuah anekdot tasawuf, ada seorang Syaikh yang hidup sangat sederhana. Ia makan sekedar yang dibutuhkannya saja, hanya untuk menghilangkan lapar. Ia juga minum secukupnya saja, hanya untuk melepas rasa dahaga. Sebagai seorang nelayan, setiap pagi ia memancing ikan. Setelah mendapatkan banyak ikan, ia membelah ikan-ikan itu menjadi dua; batang tubuh ikan-ikan itu dibagikannya kepada para tetangganya, sementara kepalanya untuk dimasak sendiri. Karena terbiasa makan kepala ikan itulah ia dijuluki Syaikh Kepala Ikan. Ia seorang sufi yang memiliki banyak murid. Salah seorang muridnya hendak pergi ke Mursia, salah satu daerah di Spanyol. Kebetulan Syaikh Kepala Ikan ini mempunyai seorang guru besar di sana (Syaikh al-Akbar). “Tolong kamu mampir ke kediaman guruku di Mursia, dan mintakan nasehat untukku,” pesan Syaikh kepada muridnya. Si murid pun pergi untuk berdagang. Setibanya di Mursia, ia mencari-cari rumah Syaikh al-Akbar itu. ia membayangkan akan bertemu dengan seorang tua, sederhana dan miskin.

Tapi ternyata, orang menunjukkannya pada sebuah rumah yang megah dan luas. Ia tidak percaya dengan kenyataan itu, mana ada seorang sufi besar tinggal di sebuah bangunan yang mewah dan mentereng, penuh dengan aneka sesajian buah-buahan yang lezat. Ia terheran-heran. Dalam hatinya bergumam, “Guruku hidup dalam keadaan cukup sederhana, sementara orang ini sangat mewah. Padahal ia adalah guru dari guruku?” Ia pun masuk ke rumah itu dan kemudian mengutarakan maksudnya. Ia menyampaikan salam gurunya dan meminta nasehat untuknya. Syaikh al-Akbar itu kemudian bertutur, “Sampaikan kepada gurumu, jangan terlalu memikirkan dunia.” Si murid tambah heran dan sedikit marah, tidak mengerti. Syaikh ini hidup sedemikian kaya, diminta nasehat oleh orang miskin malah menyuruh jangan memikirkan dunia. Akhirnya dengan kesal ia pulang.

Saat gurunya mendengar nasehat yang diperoleh melalui muridnya, ia hanya tersenyum dan sedikit sedih. Si murid bertambah heran dan mengernyitkan keningnya karena sama sekali tidak mengerti dengan drama itu. Apa maksud nasehat tersebut? Guru itu menguraikan, “Guruku yang di Mursia itu benar. Menjalani hidup tasawuf (beragama) bukan berarti harus hidup miskin. Tetapi hati kita tidak terikat dengan kekayaan yang kita miliki dan tetap terpaut kepada Allah. Boleh jadi orang miskin harta, tetapi hatinya memikirkan dunia. Saya sendiri ketika makan kepala ikan, masih sering membayangkan bagaimana enaknya makan ikan yang sesungguhnya.”

Kisah ini menunjukkan dua hal; menjadi orang kaya tidak mesti jauh dari kehidupan sufi, dan menjadi orang miskin tidak otomatis mendekatkan orang kepada kehidupan sufistik. Syaikh al-Akbar yang disebut di atas adalah Muhyiddin Ibnu ‘Arabi. Salah satu sufi terbesar dan paling cemerlang dalam sejarah perkembangan tasawuf. Sementara sufi yang lain, tentang dunia ini, mengatakan, kehidupan tasawuf adalah membiarkan tanganmu sibuk mengurusi dunia dan membiarkan hatimu ingat kepada Allah. Tasawuf bukan berarti mengisolir dan menjauhkan diri dari keramaian. Meskipun pada saat-saat tertentu kita perlu menyendiri, berdialog dengan Allah, seperti dalam shalat lail, i’tikaf dan sebagainya. Imam Ghazali mengatakan, jiwa harus merawat tubuh sebagaimana orang mau naik haji harus merawat ontanya. Tapi kalau ia sibuk dan menghabiskan waktunya hanya untuk merawat ontanya, memberi makan dan menghiasinya, maka kafilah (rombongan) itu akan meninggalkannya.

Pada ilustrasi yang lain, Al-Ghazali bertanya, “Apakah uang itu membuatmu gelisah?” Orang yang hatinya terganggu oleh uang belumlah beragama dengan sebenarnya.” Jadi persoalannya bukan kita tidak boleh memiliki uang. Justru bagaimana caranya kita punya uang, tapi pada saat yang sama hati kita tidak terganggu dengan harta yang kita miliki. Dunia ini tempat kita diberi pelajaran dan sekaligus menjalani ujian. Ambillah yang kurang daripada yang lebih di dalamnya. Puaslah dengan apa yang kita miliki, betapapun yang kita miliki kurang daripada yang lain. Dunia itu tidak buruk, sebaliknya ia ladang untuk menyemai benih kebajikan. Apa yang sudah kita tanam di dunia ini, akan kita panen di akhirat kelak. Dunia adalah jalan untuk menuju kebahagiaan puncak, dan arena itu baik, layak untuk dipuji dan dielu-elukan demi kehidupan akhirat. Tentu yang buruk adalah jika yang kita perbuat di dunia ini menyebabkan kita berpaling terhadap kebenaran dan tumbuhnya nafsu yang bergelora untuk menguasai dunia ini.

Demikianlah, sepenggal do’a “robbanaa aatinaa fiiddunyaa hasanah wa fiil aakhirati hasanah/ Ya Allah anugerahkanlah kepada kami kebahagiaan di dunia dan kebahagiaan di akhirat (QS. Al-Baqarah/ 2: 260)”, berimplikasi pada pentingnya merasakan dan menjalani kehidupan dunia ini. Secara pragmatis dapat kita mengerti, apa yang kita butuhkan untuk membangun sebuah masjid? Bagaimana kita dapat membangun panti asuhan sekaligus menjaga si yatim di dalamnya? Bagaimana kita dapat memberi bantuan kepada sesama yang sedang terserang virus mematikan di rumah sakit? Tidak hanya dengan do’a, tapi juga biaya. Tentunya itu adalah persoalan dunia. Saya masih teringat tentang nasib beberapa sahabat saya yang terkatung-katung ketika menyelesaikan kuliah. Beberapa diantaranya saya perkenalkan kepada orang-orang kaya. Dengan upaya itu, mereka dapat bernafas lega dan menyelesaikan kuliahnya secara baik. Kekayaan si dermawan itu adalah bagian dari dunia. Karenanya gapailah dunia itu, agar kita dapat orang lain sekaligus menggapai akhirat.

Memang ada fakta yang kelihatannya ironis, tidak sedikit orang yang secara lisan mencibir kehidupaan dunia, tapi dalam perilaku ia malah memiliki obsesi yang besar atasnya. Ada pula orang yang secara lisan menghargai dunia, namun perilakunya kurang menunjukkan ketertarikannya terhadap dunia. Sehingga apa yang ia miliki dari harta benda dunia ini, selalu digunakannya untuk membantu orang lain. Saya juga merasakan, terkadang di sela-sela ruku’ dan sujud, hati saya teringat dunia, berharap fasilitas hidup dapat lebih baik daripada sebelumnya. Kala Ramadhan, saya juga teringat akan makanan untuk berbuka puasa dan pakaian baru untuk anak-anak ketika lebaran datang. Padahal di saat itu saya sedang berpuasa. Memang tabiat manusia demikian. Itulah sebabnya imam Ali menjelaskan bahwa kefakiran menyebabkan keingkaran. Secara lebih sederhana dapat dikatakan, kurangnya fasilitas dunia ini, terkadang, menyebabkan kurangnya kekhusyu’an dalam ibadah. Tentu yang tercela adalah orang-orang yang secara duniawi berkecukupan bahkan berlebih, namun tangan dan hatinya tetap terpaut dengan dunia.

Rasulullah menjelaskan, bahwa tangan yang di atas lebih baik daripada tangan yang di bawah. Bagaimana kita dapat meletakkan tangan di atas sementara diri kita kekurangan? Inilah kiranya yang dikehendaki Rasulullah. Hadis lain menyebutkan, bahwa orang Mu’min yang kuat lebih dicintai Allah daripada orang Mu’min yang lemah. Kuat dalam hadis ini dapat dipahami secara fisik, kepemilikan harta benda. Inilah signifikansi kita gapai dunia. Ada perdebatan menarik tentang mana yang lebih baik, antara orang kaya yang bersyukur dan orang miskin yang sabar. Sehubungan dengan ini, ada dua orang sufi besar, Ibrahim bin Adham dan muridnya, Syaqiq al-Balkh. Ibrahim itu dulunya seorang pangeran dari Balkh, Asia Tengah. Tetapi karena pencerahan ia memilih hidup sederhana. Konon Syaqiq, sang murid, dulunya seorang pengusaha. Seperti gurunya, ia memilih hidup sederhana pula. Namun dalam kesederhanaannya ia masih diganggu kegelisahan, “Darimana rezeki saya?”

Suatu saat keduanya berjalan-jalan. Mereka melihat seekor burung menggelepar di tanah karena patah sayapnya. Tetapi tiba-tiba datanglah seekor burung yang lain membawa makanan untuknya. Melihat hal ini, Syaqiq merenung, “Astaghfirullaah, kalau burung saja rezekinya dijamin Allah apalagi saya?” Inilah salah satu bentuk tawakkal kepada Allah. Tapi Ibrahim bin Adham menolak kesimpulan itu. ia menegur muridnya, “Kamu ini aneh, kamu hanya melihat burung yang patah sayapnya, menggelepar di tanah dan tidak berdaya. Mestinya kamu belajar dari burung yang sehat itu. Dengan demikian, ia dapat mencari nafkah bukan hanya untuk dirinya sendiri tapi juga untuk burung yang lain.” Ibrahim ingin menegaskan bahwa lebih baik Syaqiq bekerja mencari karunia Allah di muka bumi ini untuk membantu para dhu’afa dan mustadh’afiin (fakir miskin dan orang-orang lemah), daripada ia menunggu belaskasihan orang.



Kesempurnaan Islam

Karena itu, Islam mengajarkan setiap kita untuk berusaha menggapai dunia ini. Setelah cita-cita itu terpenuhi, baru kemudian ia dapat kita gunakan sebagai mediator antara diri kita dengan Allah. Islam tidak menganjurkan agar kita dapat terus beribadah kepada Allah, maka kita mesti melakukan ekskomunikasi dari masyarakat. Tidaklah demikian, hamba yang amat dicintai Allah adalah orang yang tetap ingat kepada Allah meskipun dalam situasi yang tidak memungkinkan. Gapailah dunia ini. Bahkan ketika seseorang menjadi konglomerat, ia tetap dapat mendekatkan diri kepada Allah dengan menggunakan hartanya untuk membantu orang lain. Jika kita pemimpin perusahaan, tentu saja kebijakan yang kita ambil harus sesuai dengan kepentingan umum. Jangan sampai gaji seorang pemimpin perusahaan mengalami perbedaan yang begitu mencolok dengan para bawahannya. Dunia yang kemudian digapai oleh seseorang, sesungguhnya menunjukkan kesempurnaan Islam itu. Tentu tidak menarik, jika ada orang yang ingin mendekatkan diri kepada Allah namun berpenampilan kusut masai, atau dengan pakaian yang kumal dan tidak menarik. Atau menjadi hamba yang terus menerus berzikir, namun hidup dari hasil pemberian orang lain. Menjadi hamba Allah yang sejati bukan berarti membenci dan meninggalkan dunia ini, tetapi mesti menggapainya. Wa Allaahu a’lam.

0 komentar:

Poskan Komentar

Silahkan beri komentar yang konstruktif