Selasa, 13 Juli 2010

Filosofi Pohon Mangga



Pernahkah kita memperhatikan perjalanan hidup pohon mangga? Jenis pepohonan ini amat mudah kita temukan di sekitar kita. Perjalanan hidup yang dilaluinya amat penting untuk kita cermati. Pohon ini selalu memberi manfaat kepada orang lain. Jika kita telusuri, pertumbuhannya tidak banyak menyusahkan kita, setelah tumbuh ia dapat menjadi hiasan bahkan pelindung dari sengatan panasnya matahari. Untuk kemudian setelah ia berbuah, buahnya dapat kita nikmati, atau kita jual kepada orang lain. Satu ketika, jika kita mengalami kesulitan untuk menggapai buah yang jauh dan tinggi, buahnya kita ambil dengan cara melemparinya. Meskipun demikian, pohon mangga itu tetap setia memberi buahnya kepada kita. Sampai matinya pun, ia tetap memberi sesuatu yang berguna. Kayunya dapat kita jadikan perkakas rumah tangga atau bahan bakar untuk memasak. Begitulah filosofi hidup yang dimilikinya, ia tetap mengorbankan dirinya secara konsisten, meskipun terkadang menerima perlakuan yang tidak layak.


Momentum Kebahagiaan

Demikianlah, pada kasus pohon mangga itu, kebahagiaan sejati tersembul dari tindakan berkorban untuk orang lain. Kita juga seperti itu, ternyata hidup yang kita jalani terasa lebih bermakna dan bahagia, ketika kita dapat memberi kebahagiaan dan manfaat kepada orang lain. Orang yang jiwanya tercerahkan dan dipenuhi rasa syukur justru kebahagiaan hidupnya diraih dengan banyak memberi sekalipun pemberian itu tidak harus berupa materi. Melalui hal itu, seseorang akan merasa berharga dan bermakna. Pribadi seperti itu lazim disebut sebagai giving oriented personality atau abundant personality, yaitu pribadi yang melimpah. Dalam al-Qur’an disebutkan, kalau saja manusia mau bersyukur atas anugerah Allah yang telah dilimpahkan, niscaya Allah akan senantiasa menambahnya. Sebaliknya, mereka yang menutup dan ingkar atas nikmat Allah, sesungguhnya mereka menciptakan neraka untuk dirinya sendiri (QS. Ibrahim/ 14: 7).

Jika saja manusia mau membuka hatinya, sungguh manusia tak akan sanggup menghitung betapa banyak anugerah Allah yang telah dilimpahkan pada manusia. Kandungan bumi dan seisinya dianugerahkan Allah untuk kesejahteraan manusia. Bagaikan cahaya matahari, kasih Allah itu tak pandang suku, etnis, bahasa, dan agama. Semuanya memperoleh anugerah dan semuanya diseru pada jalan kebenaran. Hanya saja, manusia seringkali tuli dan buta dari sapaan dan uluran kasih-Nya. Walau demikian, kasih Allah tidak pernah berhenti. Hanya saja, bagi orang-orang yang diberi kemudian mensyukurinya, Allah akan melimpah ruahkan rezakinya kembali. Salah satu wujud dari rasa syukur tersebut itu adalah tahadduts bin ni’mah (berbagi kepada orang lain). Memberi berarti menerima. Membantu orang lain berarti membantu diri kita sendiri. Sebaliknya, bagi yang diberi kemudian mengingkarinya, Allah akan menghentikan rahmat-Nya bahkan merubahnya menjadi azab yang amat pedih.

Secara hakiki, sikap dan orientasi hidup untuk senantiasa memberi dan melayani (giving and serving oriented), merupakan sumber kebahagiaan dan puncak-puncak prestasi kehidupan. Orang tua merasa sukses ketika bisa memberi yang terbaik untuk anak-anaknya. Para atlet akan merasa bahagia dan sukses ketika berhasil mempersembahkan medali untuk bangsanya. Pemimpin yang dianggap sukses bukanlah yang kaya raya karena canggih melakukan korupsi. Akan tetapi pemimpin yang siap hidup sederhana karena ingin memberikan seluruh potensi dan keunggulannya untuk rakyat dan bangsa. Seorang guru juga demikian, ia akan merasa bahagia melihat murid-muridnya berhasil di berbagai lapangan kehidupan, setelah sebelumnya berbagai amunisi hidup ia tanamkan ke dalam benak dan batin mereka. Begitulah, kebahagiaan yang tak terkira terjadi ketika kita dapat memberikan sesuatu kepada orang lain.

Begitu pula dengan para ilmuan, mereka akan dikenang sejarah karena sumbangannya yang cukup berharga untuk kemanusiaan. Orang kaya yang dikagumi dan dicintai setiap orang adalah mereka yang dengan hartanya meninggalkan amal kebajikan untuk menolong dan memajukan masyarakat. Seperti halnya di dunia flora, berbagai tumbuh-tumbuhan itu akan merasa bahagia setiap kali dahan, ranting, dedaunan yang dimilikinya dapat dimanfaatkan manusia. Kehidupan manusia juga seharusnya dapat merujuk dunia fauna itu, sesungguhnya apapun yang kita miliki tidak bermakna kalau belum mendatangkan manfaat pada orang lain. Suatu hari, Ali bin Abi Thalib bertanya kepada para muridnya, “Kalau di tangan saya ada uang sepuluh dirham, lalu saya sedekahkan tiga dirham, berapa sisa uang saya?” Muridnya menjawab, “Masih tujuh dirham.” “Salah.” Jawab Ali. “Yang benar, uang saya masih tiga dirham. Mengapa? Karena apa yang saya sedekahkan itulah yang abadi. Sementara sisanya belum pasti.”

Dialog ini memberi pelajaran sangat dalam terhadap apa yang kita miliki dan apa yang sudah kita belanjakan di jalan kebaikan, bukan apa yang kita simpan, lalu kita menjadi penjaganya. Dalam sebuah hadis disebutkan bahwa harta itu akan dimintai keterangan terkait dengan proses pencarian dan penggunaannya. Dengan demikian, mereka yang merasa memiliki kekayaan, harta benda, dan kepintaran belum tentu “memiliki”. Hal ini disebabkan materi tersebut belum “melekat” dan belum “tercatat” dalam kitab amal saleh sampai dimanfaatkan menurut petunjuk Allah Sang Pemilik Sejati semesta ini. Lebih dari itu, mereka yang memiliki deposito milyaran, tetapi masih mau korupsi, mereka itu sesungguhnya orang-orang yang miskin dan pantas dikasihani. Perasaannya sebagai orang kaya adalah semu, ketika kekayaan yang dimilikinya belum dirasakan orang lain.

Oleh karena itu, agar yang kita miliki menjadi abadi, maka yang ada dalam diri kita harus kita berikan kepada orang lain. Jika kita memiliki ilmu yang bermanfaat, wariskanlah ilmu itu. Jika memiliki harta, maka wariskanlah harta itu. Dengan demikian, warisan itulah yang akan memperpanjang umur kita. Meskipun kita sudah meninggal dunia, apa yang kita tinggalkan akan dapat dikenang dan dirasakan generasi berikutnya. Konsep umur terkait erat dengan produktivitas dan kemakmuran yang akan selalu mendatangkan pahala atau dividen kebajikan walaupun seseorang telah dinyatakan almarhum. Sebaliknya, jika kita berilmu tapi menyembunyikannya, berharta namun bakhil, sebenarnya umur kita sudah tidak ada, dalam arti masyarakat tidak merasa sedikitpun dari eksistensi kita di tengah-tengah mereka. Perilaku Abu Bakar, Umar bin Khattab, Usman bin Affan, maupun Ali bin Abi Thalib, layak kita teladani. Mereka sudah berkalang tanah, namun kita tetap merasakan gema kehadiran mereka di tengah-tengah hidup kita. Bukan hanya harta, mereka juga sanggup menginfakkan diri mereka untuk kemaslahatan masyarakat.

Demikian pula dengan Thomas Alfa Edison, Kiyai Ahmad Dahlan, Buya Hamka dll., meskipun mereka telah meninggalkan kita berpuluh bahkan beratus tahun, namun buah karya mereka tetap kita rasakan. Bagaimana jika Edison tidak ada? Tentu listrik juga tidak kita temukan. Demikian pula dengan Kiyai Dahlan, tokoh pergerakan modern yang konsisten membina anak bangsa ini via jalur pendidikan, Buya Hamka, ulama konsisten milik masyarakat dengan segudang karyanya, telah menempati ruang tersendiri di medan nurani kita. Jasa mereka akan terus hidup sepanjang dunia ini belum berakhir, meskipun jasad mereka sudah musnah. Memang kemuliaan manusia terletak pada karya yang ia tinggalkan untuk umat. Bagi mereka, kebahagiaan sejati ketika diri mereka meninggalkan sesuatu yang berguna bagi kelangsungan hidup generasi berikutnya.


Reorientasi Hidup

Hidup hanya sekali, dengan sekali hidup inilah kita manfaatkan dengan sebaik-baiknya. Perjalanan hidup juga linier, artinya ia terus bergerak ke depan, tidak berhenti apalagi mundur ke belakang. Demikianlah, tak terasa, masa kecil kita sudah berlalu, masa remaja pun sudah berganti. Sepertinya hidup hanya sebentar. Lalu, kita banyak bercerita mengenai kisah hidup itu kepada generasi belakangan. Akhirnya kita tua dan di ambang kematian. Apakah dengan berlalunya waktu tidak ada kekaryaan sedikit pun yang dapat kita wakafkan untuk genarasi mendatang? Jika inilah kenyataannya, maka sesungguhnya kita sudah mati di dalam hidup ini. Bacalah buku karya Michael Hart “Seratus Tokoh”, di dalamnya kita menemukan manusia-manusia besar yang amat berpengaruh dalam sejarah manusia. Tokoh-tokoh yang meninggalkan karya besar untuk masa yang bukan masanya. Ketika nama mereka harus dicoret dari dunia ini, mereka masih meninggalkan kebajikan yang akan tetap dikenang dan dirasakan manfaatnya. Mereka telah meninggalkan kita, namun sentuhan karya mereka terhunjam ke lubuk sanubari kita yang paling dalam. Seperti pohon mangga itu, tokoh-tokoh dunia tersebut tetap memberi tanpa mengenal lelah, meskipun mereka sering menerima perlakuan tidak wajar. Wa Allaahu a’lam.

0 komentar:

Poskan Komentar

Silahkan beri komentar yang konstruktif