Salah satu akhlak terpuji yang dijelaskan dalam Islam adalah sikap jujur, termasuk terhadap diri sendiri. Kejujuran ini menuntut keberanian yang maksimal, karena tidak semua orang mampu melakukannya. Karena itu, Rasulullah menyebutnya sebagai jihaadun nafs (jihad melawan diri sendiri). Menyebutkan diri memiliki berbagai kelebihan, tentulah sangat mudah dibandingkan dengan menyebutkan kelemahan diri sendiri. Untuk yang terakhir, tidak semua orang dapat melakukannya, jika pun sanggup, mungkin saja hal itu terjadi karena dorongan keterpaksaan yang berat. Syair yang didendangkan seniman alam, Ebiet G. Ade, “Kita mesti telanjang dan benar-benar bersih. Suci lahir dan di dalam batin…,” mengisyaratkan kepada kita untuk berkata apa adanya, dan tidak ada yang harus ditutup-tutupi. Kecerdasan dan kekesatriaan seseorang bukan terletak pada kemampuannya menyusun strategi agar noda hitam dirinya tertutupi, melainkan terletak pada sikap bijak dan berani mengatakan diri apa adanya dan seperti apa. Inilah penulis pikir yang menjadi barang langka dan klasik dalam setiap diri kita. Karena itu harganya amat mahal.
Mencari Alasan
Jujur bermakna keselarasan antara berita dengan kenyataan yang ada. Jadi, kalau suatu berita sesuai dengan keadaan yang ada, maka dikatakan benar/ jujur, tetapi kalau tidak, maka dikatakan dusta. Kejujuran itu ada pada ucapan, juga ada pada perbuatan, sebagaimana seorang yang melakukan suatu perbuatan, tentu sesuai dengan yang ada pada batinnya. Seorang yang berbuat riya’ tidaklah dikatakan sebagai seorang yang jujur karena dia telah menampakkan sesuatu yang berbeda dengan apa yang dia sembunyikan (di dalam batinnya). Demikian juga seorang munafik tidaklah dikatakan sebagai seorang yang jujur karena dia menampakkan dirinya sebagai seorang yang bertauhid, padahal sebaliknya. Yang jelas, kejujuran merupakan sifat seorang yang beriman, sedangkan lawannya, dusta, merupakan sifat orang yang munafik.
Ada sebuah cerita jenaka, mengisahkan tentang serigala yang kehausan. Satu ketika, ia mendengar ada sebuah kebun anggur yang siap untuk dipanen. Rasa haus yang mencekik menyebabkan ia berjalan lebih cepat mencapai tempat tujuan. Di tengah jalan ia bertemu banyak binatang yang menanyakan kemana ia pergi. Serigala itu menjelaskan dengan penuh semangat bahwa ia akan menikmati buah anggur yang lezat. Sesampainya di kebun tersebut, tanpa basa basi, ia meraih buah anggur yang bergelantungan beberapa kali. Setiap ia ingin meraihnya, setiap saat itu pula ia jatuh. Begitu seterusnya. Akhirnya, ia merasa jenuh dan bertambah letih. Ia pun putus asa dan meninggalkan kebun anggur itu. Beberapa binatang lain menanyakan kepadanya bagaimana rasa anggur yang baru ia rasakan, sebab mereka juga akan menuju ke sana. Tanpa berpikir panjang serigala itu menjawab, “Anggurnya pahit dan masam.” Padahal bukannya anggur itu yang pahit dan masam, tapi karena ketidakmampuan serigala itu untuk meraihnya. Akhirnya untuk menutupi kelemahan dan kekurangan dirinya, ia menjelek-jelekkan buah anggur itu.
Demikianlah, kita selalu saja menemukan orang yang berjubah apologi. Kesalahan dan kelemahan pribadinya ditutupi dengan cara menyalahkan keadaan, persis seperti serigala tersebut. Sikap seperti ini tidak akan mendewasakan seseorang, melainkan hanya melahirkan manusia-manusia yang berjiwa kerdil (timid soul). Jauh hari, Rasulullah menjelaskan kepada para sahabat, bahwa agama itu adalah kejujuran. Itulah sebabnya, beliau memiliki empat sifat sempurna, salah satunya adalah jujur (shidq). Nasehat Rasulullah itu jika dipahami, merupakan pilar penting bagi tegaknya sebuah masyarakat. Jika kejujuran tidak ada, maka rasa saling curiga akan menerpa. Pada akhirnya kekacauan sosial (chaos) akan muncul pula. Kejujuran adalah keberanian. Tidak ada kejujuran tanpa keberanian. Hanya petarung-petarung sejatilah yang siap bergelut dengan kejujuran itu. Sementara itu, para pecundang lebih memilih menampilkan sosok mempesona, padahal di dalam dirinya terpendam berbagai kebohongan yang besar. Filsafat hidupnya menyerupai buah kedondong, luarnya halus namun dalamnya berserabut.
Lihatlah di sekeliling kita, orang yang jujur amat sulit ditemukan. Ketidak jujuran inilah yang menyebabkan berbagai fondasi bangsa di negeri ini runtuh. Seorang pengusaha kaya yang telah terbukti bersalah, masih saja menyembunyikan aibnya dengan menyewa pengacara handal. Seorang artis, tetap mempertahanlan diri dalam kebohongannya meskipun kasusnya telah terbukti bersalah. Seorang jaksa, karena ketidakjujurannya, menerima suap dari pihak yang berperkara. Anehnya, uang suap itu ia gunakan untuk menunaikan ibadah umroh. Sebuah sikap yang tentunya berseberangan dengan tujuan umroh itu, yaitu lahirnya manusia-manusia yang jujur. Kenyataan pahit ini merupakan bukti kasat mata betapa sebuah kejujuran amat mahal dan langka di negeri ini. Ketidak jujuran sudah menjadi budaya tersendiri. Ketika hal tersebut kerap terjadi, maka ketidakjujuran merupakan sesuatu yang ma’ruf (dikenal/ dianggap biasa). Jika orang jujur, ia dianggap sesuatu yang aneh. Jika seseorang tidak jujur, maka hal itu dianggap lumrah.
Demikian pula dengan bencana kemanusiaan akibat tragedi lumpur Lapindo, kasus Bank Century yang merugikan uang negara dalam jumlah yang amat besar, istana megah yang dibangun di beberapa rumah tahanan dan sebagainya, adalah beberapa kasus yang terjadi akibat kebohongan sosial. Pengaruh yang ditimbulkan juga tidak sedikit, melahirkan penderitaan fisik materil dan moril yang jumlahnya tidak terkira. Ironisnya, kenyataan seperti itu masih digunakan oleh pihak-pihak tertentu untuk membela diri. Padahal kesalahan terletak di pundak mereka, namun mereka malah saling lempar tanggung jawab. Demikianlah, negeri ini belum mampu melahirkan sosok-sosok ksatria, yang mana sosok itu tampil ke permukaan untuk mempertanggungjawabkan segala sesuatu yang dilakukannya. Masing-masing pihak merasa benar sendiri, dan yang fatal tidak sedikit diantaranya bersembunyi di balik baju agama. Ingatlah, semakin banyak kebohongan tersebar di negeri ini, semakin dalam pula negeri ini menggali lubang kuburnya sendiri.
Kejujuran ini amat sulit dilakukan, apalagi di depan orang-orang yang berkuasa, atau berjasa dalam hidup kita. Biasanya, kita hanya membenarkan apa yang ia ucapkan dan lakukan, meskipun hal itu salah. Kita lebih mengedepankan perasaan ketimbang sebuah kejujuran yang bernilai luhur. Rasulullah sendiri menjelaskan bahwa jihad yang terbaik diantaranya menyampaikan situasi yang jujur di hadapan para penguasa, para pemimpin, orang-orang yang berjasa, namun dalam keadaan salah. Pada sebuah kesempatan, Rasulullah juga menyebutkan, “Senantiasalah kalian jujur, karena sesungguhnya kejujuran itu membawa kepada kebajikan, dan kebajikan membawa kepada surga. Seseorang yang senantiasa jujur dan berusaha untuk selalu jujur, akhirnya ditulis di sisi Allah sebagai seorang yang selalu jujur. Dan jauhilah kedustaan karena kedustaan itu membawa kepada kemaksiatan, dan kemaksiatan membawa ke neraka. Seseorang yang senantiasa berdusta dan selalu berdusta, hingga akhirnya ditulis di sisi Allah sebagai seorang pendusta.”
Alangkah malunya jika setiap kita bercermin pada perilaku Brennan Breene dari Penynslavia. Dalam sebuah perjalanan, ia menemukan sebuah amplop berisi uang senilai 3.600 dolar (36 juta) di sebuah jalanan yang sibuk. Breene memungutnya. Beberapa hari kemudian, lewat sebuah situs berita lokal, ia mendengar ada sepasang pengantin yang tertimpa sial karena kehilangan uang hasil dari pemberian teman-teman mereka pasca pesta perkawinan. David dan Ashley Marasco, pasangan pengantin itu, meletakkan album perkawinan mereka dan amplop berisi uang di bagasi mobil mereka, namun tanpa di sadari amplop itu terjatuh. Setelah alamat sang pengantin dan namanya sesuai pula, Breene segera meluncur menuju alamat mereka. Setelah bertemu, dengan perasan ikhlas, Breene menyerahkan amplop itu. Breene merupakan cermin kejujuran di negeri ini. Sungguh bijak sekiranya para pejabat publik dan seluruh masyarakat belajar dari Breene. Tentu saja, negeri kita tidak akan sekacau ini.
Menengok ke Dalam
Benar apa yang diungkapkan Ebiet, kita mesti telanjang dan melakukan pembersihan diri. Bersih lahir dan batin. Jangan ada dusta. Hanya dengan cara itu, kita akan mencapai kehidupan yang baik dan bermartabat, tidak saling menyalahkan. Satu sikap yang dibutuhkan, kita mesti bertanggungjawab terhadap semua perbuatan yang kita lakukan. Jauhkan perilaku apologi serigala seperti pada fabel di atas, ia menyalahkan keadaan hanya untuk menutupi berbagai borok yang ada di dalam dirinya. Atau mungkin menutupi keadaan dirinya yang tidak berkemampuan. Jujur akan menjadikan jiwa kita tenang, setenang Brennan Breene mengembalikan uang yang bukan haknya. Jika tiga persyaratan itu; jujur lahir batin, menjauhkan sikap mencari alasan seperti si serigala, dan bercermin kepada Breene, kita yakin dan percaya, bangsa ini akan bernafas lega dan nestapa sosial dapat terkurangi. Untuk semua itu, mulailah dari diri kita sendiri. Wa Allaahu a’lam.
0 komentar:
Poskan Komentar
Silahkan beri komentar yang konstruktif